26 Maret 2026

Magic Origin

Legenda Awal

Diceritakan awalnya ketika Baba Yaga untuk pertamakalinya merasa bosan. Menakuti orang, memakan anak-anak tersesat, dan tinggal di hutan lebat... Ia pun memutuskan untuk hidup damai dan membaur di desa. Tetapi sihir yang ia miliki menahan semuanya, termasuk yang membuatnya buruk rupa karena terlalu lelah mengontrol seluruh jenis sihir. Tak ada pilihan lain, kecuali menurunkan sebagian besar ilmu sihirnya kepada manusia yang menginginkan.

Ia berkeliling, melihat apabila ada manusia yang bisa menjadi potensi sebagai penyihir. Terkadang dengan berani ia menawarkan kepada orang yang sedang berkumpul di pasar, lahan, ataupun motel. Tetapi semua tidak percaya bahwa ia adalah Baba Yaga, bahkan mengatakan bahwa tokoh tersebut hanya di dalam dongeng agar anak-anak tidak masuk ke dalam hutan. Dengan sedih Baba Yaga meninggalkan mereka, berusaha tidak memakan mereka untuk membuktikan tersebut.

Hingga ada seorang yang mendekati Baba Yaga setelah kesekian kalinya nenek tersebut kecewa tidak ada yang percaya dengannya. Seorang bangsawan muda yang kulitnya putih bersih, matanya sayu karena obsesinya pada militer negara asing dianggap lelucon oleh semua orang. Dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa dia percaya dengan perkataan Baba Yaga, bahkan ingin diajarkan ilmu sihir. Tentunya dengan sukacita Baba Yaga mengajaknya masuk hutan tempat ia tinggal dengan cara teleportasi, dan mengajarinya sihir tanah.

Tetapi tidak hanya sampai situ saja. Baba Yaga masih tetap mencari orang-orang lagi untuk diturunkan ilmu sihirnya. Hingga dia menemukan seorang bangsawan muda yang sangat senang mengembara dan berburu. Dengan penuh semangat ia menerima tawaran Baba Yaga meskipun sempat ketakutan saat tahu jati diri penyihir tersebut. Ia pun diajarkan sihir api, bergantian dengan bangsawan sebelumnya yang diajarkan sihir tanah.

Tidak lebih dari dua tahun, kembali muncul satu murid. Seorang petani tunanetra, yang nyaris dibunuh rekannya sendiri karena seorang gadis lebih memilih si tunanetra ketimbang rekannya. Ia diajarkan sihir air, bergantian dengan dua eks-bangsawan yang mempelajari sihir api dan tanah.

Dan tidak lebih dari setahun, muncul murid terakhir Baba Yaga. Seorang wanita dari kaum Cossack Zaporozhian yang memberontak menjadi wanita rumahan, sesuai tradisi keluarga. Ia diajarkan sihir angin, bergantian dengan tiga pria yang mempelajari sihir air, api dan tanah.

Perlu seabad mereka diajarkan, dan akhirnya selesai. Baba Yaga beserta rekan makhluk sihirnya, Koshchei Bessmertnik, memutuskan untuk berkelana lebih jauh. Karena Baba Yaga masih harus menurunkan tiga ilmu sihir terkuat yang ia miliki, sebelum bisa istirahat sepenuhnya. Keempat penyihir elemen itu dilepaskan olehnya, diberinya satu perintah: "Sebarkanlah sihir kalian, tak peduli untuk kebaikan atau kejahatan."

Keempat penyihir dengan patuh menjalankan perintah tersebut, setelah sebelumnya mengadakan perjanjian agar tidak ada penyihir yang menyerang satu sama lain kecuali keadaan terdesak. Lalu, masing-masing dari empat penyihir itu memecah ilmu mereka agar bisa lebih mudah diajarkan dalam kurun waktu cepat.



Kehidupan Setelah Legenda

Kau pasti tahu, terdapat penyihir yang jahat dan yang baik. Keempat penyihir itu tentunya punya karakter sendiri. Dan ya, mereka menggunakannya untuk hal-hal beragam.

Sang Penyihir Tanah menggunakan sihirnya untuk mengacaukan militer Tsar saat perang dengan Perancis, Turki dan Jerman. Tak peduli Perancis kalah, Penyihir Tanah terus menggunakan sihirnya untuk membuat militer negaranya sendiri gonjang-ganjing dan banyak memakan korban. Media sihir yang ia gunakan adalah pedang yang terbuat dari kayu dengan gagangnya terbuat dari batu yang diasah sendiri. Dengan mudah dia cukup mengetuk atau menghantamkan mata pedangnya ke tanah, membuat bebatuan dan kerikil menghujam badan dari bawah. Dalam keadaan terdesak, pedangnya dapat terpecah menjadi serpihan kayu yang melukai setiap senti badan manusia, bahkan tentara yang menggunakan baju zirah.

Sang Penyihir Api menggunakan sihirnya untuk melindungi setiap pengembara ataupun wanita yang pergi sendiri. Diam-diam dia akan membakar siapapun yang hendak mencelakai para pengembara. Sebilah pedang baja yang selalu ia bawa sejak dahulu, ia gunakan sebagai media sihirnya. Apabila ia memegang erat gagangnya, pedang itu akan mengeluarkan bahkan menyemburkan api. Warna api juga beragam, tergantung tujuannya. Keahliannya dalam pedang pun memudahkannya untuk melawan bandit-bandit yang meresahkan masyarakat.

Sang Penyihir Air menggunakan sihirnya untuk memuaskan rasa keinginannya untuk membunuh setelah trauma akan masa lalu. Dia mengetes beberapa orang dengan berpura-pura menjadi pengemis tunanetra, dan siapapun yang menghinanya maka esoknya akan ditemukan mati di sungai. Media sihirnya adalah tali tambang, yang ia temukan di dekat dermaga sungai. Tali tersebut dapat berubah menjadi air ketika dia memegangnya, bahkan menjadi sebuah tsunami bila mengucapkan mantranya.

Sang Penyihir Angin menggunakan sihirnya untuk membantu petani Cossack bercocok tanam. Ia jauhkan semua cuaca buruk, baik hujan, salju ataupun terik matahari yang terlalu lama. Media sihir yang ia gunakan adalah kain panjang yang menghiasi pakaiannya, tetapi terkadang ia juga menggunakan selendang di lehernya. Dengan gerakan dan mantra tertentu, kain tersebut dapat meniupkan angin sepoi-sepoi yang memata-matai setiap gerakan manusia, hingga angin ribut untuk menjauhkan musuh-musuh yang hendak menyerang Cossack.

Mereka berempat tetap berkawan, meskipun berbeda pandangan hidup. Tak ada konflik di antara mereka. Hingga dikatakan bahwa setiap lima tahun sekali, mereka bertemu di hutan tempat mereka belajar dan menghabiskan tiga malam berpesta di rumah lama Baba Yaga yang masih hidup sampai sekarang. Mereka menjadi contoh untuk penyihir muda bahwa setiap elemen yang ada di dunia berjalan dengan harmonis.

Perlahan keempat penyihir itu memiliki murid mereka sendiri. Adapula murid tersebut juga berguru pada penyihir lain, dan menghasilkan kekuatan sihir elemen baru.


Kemunculan Penyihir Non-Elemen

Disaat para penyihir sedang dalam masa keemasan dan kedamaian, Baba Yaga kembali datang pada keempat penyihir itu, dan memperkenalkan tiga penyihir lain yang lebih mirip mayat hidup ketimbang seorang manusia. Mata mereka sepenuhnya hitam dengan pupil putih.

"Mereka adalah Penyihir Non-Elemen. Kubangkitkan mereka dari arwah penasaran yang dahulunya tak punya harga diri. Meskipun mereka baru selesai belajar, tetapi usia mereka sama tuanya dengan kalian."

Sang Penyihir Waktu mampu mengontrol semua waktu, baik masa lalu, masa kini atau masa depan. Ia dahulunya seorang tentara yang bunuh diri karena tertekan melihat seluruh kawannya mati dalam perang, dan bergentayangan di tepi pantai tempat peperangan itu terjadi. Baba Yaga menghampirinya, dan menawarkan untuk menjadi penyihir. Ia masih ingat masa lalunya, dan ia langsung menerima.

Sang Penyihir Jiwa mengontrol arwah-arwah yang berkelana di dunia. Ia dahulunya adalah seorang pengumpul jamur yang dibunuh sadis oleh bandit, dan bergentayangan di hutan. Baba Yaga menghampirinya, dan menawarkan untuk menjadi penyihir. Perlu waktu beberapa hari membuatnya yakin dan bantuan dari Penyihir Waktu, karena ingatannya cepat menghilang setelah mengucapkan iya dengan ragu. Dengan cepat saat berkata iya dengan penuh keyakinan, ingatannya kembali muncul, dan ia langsung menerima menjadi penyihir.

Sang Penyihir Ilusi mampu mengontrol pikiran makhluk hidup. Ia dahulunya seorang kembang desa yang tidak sengaja terjatuh ke dalam jurang saat sedang mencari beri liar, dan arwahnya bergentayangan di sekitar jurang tersebut. Baba Yaga menghampirinya, dan menawarkan untuk menjadi penyihir. Perlu waktu beberapa minggu membuatnya yakin dan bantuan dua muridnya, karena ingatannya cepat menghilang bahkan sebelum berkata iya. Setelah waktu diperlambat oleh Penyihir Waktu dan ingatannya dibantu kembali oleh Penyihir Spirit, ia langsung menerima menjadi penyihir.

Ketujuh penyihir inipun memperbarui perjanjian yang sudah dibuat sebelumnya dengan menambahkan tanda sihir milik tiga penyihir baru. Baba Yaga kemudian memberi julukan kepada mereka bertujuh "Penyihir Sesepuh", dan setelahnya kekuatan Baba Yaga telah hilang sepenuhnya. Ia tidak buruk rupa lagi meskipun berusia sangat tua. Dengan penuh haru ketujuh penyihir melepas kepergian nenek tersebut untuk hidup damai di suatu desa yang tidak diketahui oleh siapapun.

Dan mereka bertujuh pun kembali melanjutkan kehidupan mereka, sembari tetap berkomunikasi satu sama lain untuk menjaga keharmonisan.